DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF DARI TREMBESI

                                    Sumber: Kompas, Minggu, 29 April 2012. hal.7:

Mencintai Bumi Tanpa Henti

 


Kulihat setiap sudut jalan raya di Kabupaten Pemalang  penuh debu,  polusi, kering, dan panas yang menyengat di tempat dudukku bersama rekan-rekan Djarum Foundation. Mesin bus kini telah berhenti dan kita telah sampai di pemalang, telah siap untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran dengan menanam pohon trembesi yang dipercaya mampu menyerap 28,5 ton gas CO2 setiap tahunnya.

Agus S Wibawa sebagai Vice President Director Djarum Foundation menginjakkan kaki terlebih dahulu di Pemalang yang disambut hangat oleh Wakil Bupati Pemalang Mukti Agung Wibowo, kemudian mereka  bercakap-cakap sekilas menanyakan kabar masing-masing dan sedikit menyinggung tentang lingkungan, sambil melihat kearah mereka, kudengar sayup-sayup kata-kata yang keluar dari Pak Agus, beliau mengatakan kepada Pak Mukti dengan tegas bahwa dengan komitment yang tidak pernah putus, Djarum Trees For Live terus berusaha melakukan penanaman pohon dan ikut berperan serta dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pak Mukti tersenyum bangga terlihat dari wajahnya yang kegirangan, seraya berkata tidak sia-sia saya menunggu kehadiran kalian dan saya bangga menyambut kedatangan para penyelamat bumi.

Kini giliran kami menginjakan kaki di tanah Pemalang dan kulihat pemandangan diluar bus yang menyambut kami dengan hangatnya suasana di Pemalang. Telah disiapkan tempat duduk yang nyaman, panggung yang besar, para artis ibu kota yang tersenyum dengan penuh ramah, sajian yang begitu nikmat telah siap disantap, dan sambutan yang begitu WAH….. Salah satu yang menjadi pusat perhatian kami yaitu pada penampilan tari selendang, para penari begitu lihainya memainkan selendang mereka, dengan gestur gerakan mereka, dan keanggunan yang dimiliki para penari mampu menghipnotis kami serta menyegarkan dahaga kami dengan talenta mereka. Begitu juga sambutan dari Pak Mukti dalam pidatonya dia berkata bumi ini sudah tua, sudah tidak ada lagi yang mengurusnya kecuali kalian, siapa lagi kalau bukan kalian yang menyelamatkan bumi untuk keturunan kita dimasa mendatang!!! Setelah mendengar pidato tersebut, kesadaran  mulai tumbuh dalam benak kami untuk segera menanam pohon trembesi, karena sebatang pohon sangat berarti bagi lestarinya hidup dikemudian hari.

Dan telah sampailah pada puncak acara yang ditunggu-tunggu yaitu menanam bibit trembesi, bibit trembesi ditanam pada titik-titik yang telah ditentukan sebelumnya oleh panitia, bibit yang telah ditanam harus segera disiram dengan air secukupnya, agar bibit trembesi ini tidak layu dan kemudian mati. Bibit trembesi yang ditanam lumayan banyak, dan menguras keringat kami, matahari pun telah berada diatas kepala kami, tetapi semangat para undangan tak terhenti oleh panasnya matahari, debu, dan polusi yang kian memuncak, tetapi itu tak seberapa karena ada sang penyemangat hadir merangkul kami, mereka adalah artis ibu kota seperti Kristina, dyna kdi, reza pahlevi, dan Juliana moechtar. Sambil menanam trembesi sesekali kami bercanda, tertawa ria dengan para artis untuk menghilangkan kebosanan.

Lelah ,penat, dan keringat membanjiri dan menguras tenaga kami. Satu persatu bibit telah selesai ditanam, dan akhirnya semua bibit telah tertanam. Untuk mengisi kekosongan karena acara sebentar lagi akan berakhir, sebagai kenang-kenangan kamipun berfoto bersama dan berbincang mengenai pohon trembesi ini. Mba Kristina memulai pembicaraan dengan bertanya kepada Pak Agus, Pak Agus kenapa yang ditanam cuma pohon trembesi, kenapa gak di campur sama pohon yang lain? Dengan tenang Pak Agus menjawab karena pohon trembesi ini  mampu menyerap 28,5 ton gas CO2 setiap tahunnya dibandingkan dengan pohon biasa yang rata-rata cuma mampu menyerap 1 ton CO2 dalam 20 tahun masa hidupnya. Selain itu pohon Trembesi juga mampu menurunkan kosentrasi gas secara efektif, tanpa penghijauan dan memiliki kemampuan menyerap air tanah yang kuat. Lalu seorang dosen fakultas kehutanan IPB Dr. Ir. H. Endes N Dahlan yang duduk didekat barisan kami menyambung pembicaraan, dia mengatakan bahwa daun Trembesi  juga sangat sensitif terhadap cahaya dan menutup secara bersamaan dalam cuaca mendung (ataupun gelap) sehingga air hujan dapat menyentuh tanah langsung melewati lebatnya kanopi pohon ini. Rerumputan juga berwarna lebih hijau dibawah pohon hujan dibandingkan dengan rumput disekelilingnya. Sambil mendengar obrolan mereka, kami melihat Mba Kristina sedang berfikir seolah-olah ingin tahu banyak mengenai pohon Trembesi ini,lalu pertanyaan keduanya langsung ia sampaikan dengan tergesa-gesa dan sedikit tekanan, LOH…. Kalau gitu pohon trembesi ngerugiin juga donk kalau ditanam secara berlebih-lebihan, benarkan pak Endes?? Pak Endes menjawab dengan wibawanya, iya memang akan berdampak negatif terhadap bumi kita karena kemampuan pohon trembesi menyerap air tanah yang sangat kuat sehingga ditakutkan malah akan mengurangi ketersediaan air tanah. Kemudian karena tanaman yang hidup dibawah pohon trembesi tidak akan dapat bertahan karena perindang yang cukup lebat sehingga tanaman dibawahnya tidak mendapatkan cahaya matahari yang cukup, kemudian Pak Agus pun masuk dalam pembicaraan untuk mencairkan suasana yang dari tadi dipenuhi ketegangan dikarenakan ketakutan kami menanam pohon trembesi, dia berkata, Kalau menurut saya, asalkan pohon ini tidak ditanam secara membabi buta dan memperhatikan keragaman hayati daerah setempat maka pohon trembesi ini akan sangat bermanfaat, dan dengan kepercayaan diri yang tinggi dia memberikan kesannya pada kami, memperhatikan keragaman hayati setempat inilah yang saya harapkan dari pemerintah pusat maupun kota ketika hendak menanam pohon trembesi ini sebagai pohon utama program penghijauan.

Akhirnya semua tanda Tanya dikepala kami telah terjawab, semua orang yang mendengarkan menarik napas panjang, dan aku berkata secara spontan syukur dech kalau pohon trembesi ini nanti bisa nyejukin udara bi bumi, dan ternyata pak endes melirikku karena perkataanku barusan dia berkata, sebenarnya ada atau tidak adanya trembesi bukan faktor utama permasalahan penyebab bumi kita ini yang semakin panas, bumi yang panas ini dikarenakan semakin tipisnya lapisan ozon yang berada di atmosphere sebagai selimut pelindung bagi semua makhluk hidup dibumi yang diakibatkan oleh gas co2 dari hasil pembakaran yang tidak sempurna, lalu banyaknya pemakaian produk yang menghasilkan CFC, pembakaran hutan, limbah industry, dan pemakaian pestisida yang berlebihan, sehingga limbah yang dihasilkan oleh produk-produk tersebut dapat menyebabkan penipisan pada lapisan ozon. Lapisan ozon jika terus menipis, maka akan meningkatkan suhu dibumi, volume perairan bertambah diakibatkan mencairnya gunung es, manusia mengalami katarak pada mata, kanker kulit, dan daya tahan kulit akan menurun diakibatkan sinar UV-B yang langsung memancar ke bumi. Ehm…. Stop pak kami juga udah ngerti ko klo masalah yang kaya gituan, ujarku dengan sedikit melongo, pusing dan kebingungan karena mendengar kata-kata yang terlalu tinggi, aku mengangguk-angguk seadanya, agar Pak Endes  berhenti berbicara karena ilmunya terlalu jauh untuk kami.

Bus pun telah mengaung, menandakan bahwa kunjungan telah selesai. Semua berpamitan dan mengucapkan terimakasih karena telah disambut dengan baik. Kunaiki bus dan duduk dekat jendela agar bisa kulihat untuk terakhir kalinya Pemalang dan Trembesi yang aku tanam, semoga kelak nanti trembesi itu dapat tumbuh menyelamatkan bumi dan tidak merusak bumi, good bye pemalang…..

 

 

 

Oleh: Fathy Rahman Ismail

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s